Prahara Di Balik Amuk Air Sumatera

Medan — Air bercampur lumpur menerjang perkampungan tanpa memberi jeda. Batang-batang kayu gelondongan meluncur dari perbukitan menghantam rumah, sawah, dan jembatan. Dalam hitungan menit, kampung yang sebelumnya terdengar suara anak-anak hingga sapi di kandang berubah menjadi dataran basah penuh puing kayu serta lumpur. Prahara itu ada di balik amuk air di Sumatera.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui jumlah korban setelah banjir dan longsor menyapu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Laporan pada Selasa (2/11/2025) pukul 18.44 WIB mencatat 744 orang meninggal dan 551 lainnya belum ditemukan.

Data itu memperlihatkan sebaran korban meluas, yakni 301 jiwa di Sumatera Utara, 221 di Sumatera Barat, dan 218 di Aceh. BNPB mencatat 3,3 juta warga terdampak. 

“Sementara 9.400 rumah, 323 bangunan pendidikan, dan 299 jembatan mengalami kerusakan,” tulis BNPB.

Bencana melintasi 50 kabupaten di Sumatera dan meninggalkan patahan ekonomi, sosial, dan ekologi. Jalan terputus, listrik padam, sekolah berhenti beroperasi, lahan pertanian terendam hingga panen gagal sebelum waktunya.

Pada tingkat pusat, perhatian mengarah pada kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru di Tapanuli Selatan. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengumumkan akan meninjau langsung kawasan itu pada Kamis (4/12/2025).

“Pihak yang menyebabkan kerusakan lingkungan ini harus bertanggung jawab,” tegasnya dilansir dari Antara, Selasa (2/11/2025).

Menurut Hanif, Batang Toru memiliki lanskap 340.000 hektare yang membentuk pola huruf V, dengan Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan berada di dalam cekungan tersebut.

Hanif mencatat, hilangnya hutan di hulu dan sisa 38% kapasitas hutan hilir mengakibatkan tutupan vegetasi tidak mampu menahan volume air. Hujan ekstrem 300 milimeter per hari pada periode 24-25 Oktober 2025 dan gelondongan kayu juga memperparah bencana di permukiman.

Ia mengatakan, pembukaan lahan berlangsung untuk keperluan pembangkit listrik tenaga air, hutan tanaman industri, dan perkebunan kelapa sawit.

“Perubahan tutupan lahan ini memunculkan dugaan struktur ekosistem di Batang Toru tak lagi berfungsi sebagai penyangga air,” tukas Hanif.

Sementara itu, Aceh mencatat curah hujan 303 mm pada periode 24-25 Oktober. Meskipun lanskapnya luas, provinsi itu runtuh dihantam 9,7 miliar kubik air yang turun di lanskap seluas 3,3 juta hektare pada hari itu. 

Sumatera Barat mencatat curah hujan mencapai lebih dari 300 mm, bahkan mendekati 400 mm sehingga menyebabkan korban jiwa cukup besar.

Bencana ini disinyalir dipicu oleh siklon tropis Senyar. Sebuah fenomena langka yang terbentuk di dekat khatulistiwa, dan dikategorikan sebagai bencana terdampak perubahan iklim.

Sementara dunia terus berdebat, bencana hidrometeorologi berdatangan ke negara tropis seperti Indonesia yang berada di jalur dua samudera besar.

Di Batangtoru, 5 desa hilang dari peta. Huta Godang, Garoga, Aek Ngadol, Batu Horing, dan Sitinjak tersapu air yang membawa batang kayu besar.

Video warga memperlihatkan tumpukan kayu menutup akses jalan dan rumah warga. TNI dan Polri membuka posko bantuan, pos komando, serta jalur evakuasi. Proses pencarian dilakukan dalam kondisi medan berat karena wilayah tertutup material tebal dan akses terputus.

Seorang warga, Josua, berjalan tiga jam dari perbatasan Tapanuli Tengah untuk mencari keluarganya. Ia tidak dapat menghubungi mereka sejak banjir bandang menghantam kampung. Ia berjalan kaki tanpa bekal dan singgah pada setiap posko untuk sekadar mencari makan sebelum melanjutkan perjalanan ke titik pengungsian.

Di Aek Ngadol, Alima Lubis yang berusia 72 tahun mengisahkan kembali momen ketika bencana datang. Ia sedang mengadakan pengajian ketika angin bertiup kuat diikuti hujan deras.

“Beberapa warga berteriak memperingatkan air besar telah mengarah ke permukiman,” ujarnya. Ia keluar dari rumah dengan bantuan tetangga yang menyaksikan rumah yang telah dibangunnya selama hidup lenyap seketika tanpa ada barang tersisa.

Di Desa Lobu Pining 1, Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara, longsor menimbun puluhan hektare sawah yang siap panen. Petani kehilangan penghasilan dalam semalam.

Dornanto Lumbentubing, seorang petani yang ditemui menuturkan, sebagian besar warga menggantungkan hidup pada pertanian. “Sawah-sawah yang tinggal menunggu saat panen kini tenggelam lumpur,” katanya.

Persawahan itu sebagian besar tidak dapat diselamatkan, dan kerugian ekonomi dirasakan langsung. Dornanto memperkirakan lebih dari sepertiga lahan sudah tidak mungkin dipanen kembali. Baginya, bantuan tidak boleh hanya berhenti pada logistik, tetapi harus menyentuh pemulihan penghasilan warga agar kegiatan pertanian bisa bangkit kembali.

Pemulihan daerah terdampak masih menjadi proses jangka panjang. Di tengah kepungan lumpur, warga menunggu kabar anggota keluarga yang belum kembali. Para petani memandangi sawah yang berubah warna menjadi cokelat pekat. Di posko pengungsian, suara relawan mengumumkan daftar nama korban ditemukan dan laporan orang hilang.

Pada sisi lain, di lereng Batang Toru, bekas bukaan hutan kini menjadi garis luka yang terlihat jelas dari udara dan menjadi pusat perhatian pemerintah, akademisi, dan lembaga lingkungan. Namun waktu terus berjalan, dan bencana hidrometeorologi diperkirakan datang kembali pada periode curah hujan berikutnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top