Pakar Teknologi Pendidikan Sebut Literasi AI Jadi Keterampilan Mendesak di Era Teknologi

Medan — Dalam percepatan teknologi saat ini, kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) telah menyatu dengan kehidupan kita sehari-hari, mulai dari aplikasi sederhana seperti petunjuk arah di ponsel hingga fitur rekomendasi di media sosial. Meski menawarkan potensi luar biasa, AI juga menghadirkan masalah serius, mulai dari risiko berpikir dangkal dan bias dalam algoritma, hingga penyebaran disinformasi yang mengiringi kemudahan akses informasi.

Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran vital. Bukan dengan menolak atau melarang teknologi, melainkan dengan membekali generasi muda dengan keterampilan hidup mendasar, seperti berpikir kritis, bertindak bertanggung jawab, dan menjaga fokus pada nilai-nilai kemanusiaan.

Hal ini mengemuka dalam pemaparan Ken Shelton, seorang ahli teknologi pendidikan dari Amerika Serikat, dalam seminar yang diadakan Research & Development for Advancement (Redea) Institute bertajuk “Membesarkan Pemikir Digital: Membantu Anak Berkembang di Era AI” pada Selasa, 18 November 2025.

Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, penulis buku “The Promises and Perils of AI in Education” dan penerima Digital Equity Professional Learning Network Excellence Award” serta “CUE Platinum Disc Award” ini menegaskan anak sedang tumbuh di masa ketika AI sudah menjadi hal biasa. “Generasi mereka akan hidup berdampingan dengan teknologi yang jauh lebih maju dibandingkan yang kita lihat hari ini. Versi AI saat ini adalah versi terburuk yang akan pernah ada,” ujarnya.

Dia mengajak orangtua dan pendidik untuk melihat pendidikan AI bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai literasi baru yang sama pentingnya dengan baca,tulis, dan hitung. “AI tidak seharusnya menjadi penghalang belajar, justru hadir sebagai sarana yang menuntun siswa merumuskan pertanyaan yang tepat dan menggali pengetahuan lebih dalam.”

Dalam menghadapi masa depan yang didominasi AI, sangat penting bagi sekolah dan keluarga untuk menjalin kolaborasi erat. Saat ini, literasi AI harus diajarkan sejak usia dini, bukan sebagai materi tambahan, melainkan sebagai kebutuhan mendasar.

Tujuannya adalah memastikan anak-anak tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi menjadi pemikir digital yang bijak, mampu mengevaluasi informasi, berkreasi, dan menavigasi dunia maya dengan cerdas.

Tim Redea Institute, dalam pembukaan workshop menegaskan kemampuan literasi AI ini merupakan komponen krusial dalam mencapai tujuan utama pendidikan, yaitu melahirkan pemimpin masa depan yang memiliki kontrol diri kuat dan visi kemasyarakatan jauh ke depan. Kerangka ini tidak hanya mengajarkan pola berpikir untuk menggunakan AI, tetapi juga cara memahami, mengevaluasi, dan mempertanggungjawabkan penggunaan teknologi tersebut.

Literasi AI didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab agar alat seperti ChatGPT dan Gemini digunakan untuk kebaikan pembelajaran. Shelton juga mengajak orangtua untuk eksperimen langsung tentang bias algoritmik, ketika Redea Institute menunjukkan bagaimana model bahasa besar (Large Language Models/LLM) dapat menghasilkan jawaban yang bias baik secara geopolitik maupun sosial. “AI bukan otoritas kebenaran. Kitalah yang memegang otoritas itu. Tugas kita adalah bertanya, memverifikasi, dan mengajarkan anak melakukan hal yang sama,” tegas Shelton dalam diskusi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top